Friday, September 03, 2010
Suara dari Basement

"Apa maumu?" bisik suara dari balik tembok. "Kalau tidak ingin hidup enak lebih baik kau tidak melakukan apapun!" kata suara itu lagi.

Aku memikirkan kata-kata itu dalam-dalam. Hening sejenak dalam diam. Rupanya kalimat itu ditujukan kepadaku. Karena akulah satu-satunya orang di basement ini.

 

Aku menyadari kesendirian ini sungguh terasa sesak. Menghimpit dadaku. Tapi, bukankah setiap orang juga mengalami kesendirian? Bukankah setiap orang juga punya sisi yang sunyi. Seperti bilik hati yang tersembunyi di dalam dada setiap manusia. Tapi mengapa cuma kau yang terganggu oleh suara itu? Ah, itu gak penting!

 

Aku berjalan menuju motor yang kuparkir di deretan paling ujung. Motor segera kunyalakan. Bunyi mesin Suzuki Shogun keluaran tahun 2005 itu menderu memecah kesunyian.

Brum..brumm..brummm...
tak lama kutinggalkan basemement itu dan kembali melaju di jalan raya. Suasana macet bukan hal baru. Semua itu memang harus kulewati dan aku harus berada dirumah tepat waktu.

Posted at 04:34 pm by hanifilman
Make a comment  

Friday, June 25, 2010
Cerpen:

Supir Angkot yang Ceroboh

Cerpen SN Hakim

 

Sore itu waktu sudah terlalu sore, ditambah lagi langit mendung. Perjalanan menuju ke Jakarta memang harus ditempuh saat itu juga. Untuk bisa  naik bus jurusan Kampung Rambutan, tentunya agar bisa dapat bangku duduk, aku memang harus bisa masuk kota Ciawi. Namun untuk menuju ke sana tentu  aku harus naik angkutan kota terlebih dahulu.

Aku  memilih  duduk tepat dibelakang bangku supir. Aku pun bisa melihat bagaimana sang supir mengemudikan angkotnya. Satu hal yang tidak bisa aku terima adalah perilakunya saat menyetir  itu. Sungguh, sangat-sangat sembrono. Sama sekali tidak ada kedisiplinan. Dia melajukan angkotnya seperti kesetanan. Dia menyalib setiap mobil di depannya dengan seenaknya saja, tanpa memperhatikan kalau dari arah yang berlawanan banyak terdapat mobil yang sama-sama melaju dengan kencang. Jantungku  berpacu sangat kencang. Sebuah episode yang sangat tidak aku sukai untuk saat ini. Tapi mau bagaimana lagi, aku memang harus sampai ke Ciawi dan mendapatkan bus yang kumau.

Supir angkot itu sekali lagi tak pernah ambil pusing kalau yang ia bawa adalah manusia yang bernyawa, bukan karung gula atau pasir. Ia membawa nyawa yang punya tugas dan kepentingan yang sangat banyak. Supir itu tidak pernah mau tahu kalau yang ia bawa adalah seorang suami yang sedang dinanti anak dan istrinya di rumah. Ia juga tak mungkin peduli bahwa di dalam angkot yang dibawanya ada manusia yang punya cita-cita dan masa depan.

Kejengkelanku tak bisa terkatakan. Aku hanya bisa mengelus dada dan sesekali berdecak sebagai tanda protes, yang tentu saja tidak mungkin terdengar di ruang nurani sang supir. Angkot tetap melaju cepat. Secepat syetan.

Wuss...wusss..wusss...

"Anjing!!"

Sang sopir angkot memaki sebuah pengendara taksi yang mencoba menyalib. Kata anjing mungkin ungkapan yang paling tepat bagi "si pesaing" di mata sopir itu. Beberapa penumpang angkot mulai meringis-ringis. Salah satu penumpang adalah seorang adalah seorang ibu. Wajahnya pucat dan berkeringat. Berkali-kali ia menoleh ke arahku. Mungkin sebagai tanda dari kekhawatirannya yang memuncak.

"Kiri!" seorang penumpang memberi kode. Maka, secara spontan saja angkot berhenti, tepatnya dihentikan dengan satu hentakan rem yang mengagetkan.  Seorang bapak tua turun dengan limbung. Ia berusaha mencapai pintu angkot dengan tangan gemetar. Tangannya menyodorkan dua lembar uang ribuan. Tampaknya sang kakek terpaksa turun. Ia sangat tersiksa dengan ulah sopir gila itu.

"Sudah Kek, gau usah dibayar!" tegur salah seorang penumpang yang lain. Si Sopir melotot. Namun, matanya berubah heran ketika semua penumpang yang tersisa ikut turun dari angkot.

"Kita, bukan kantong pasir, Pak Supir!" celetuk salah seorang penumpang.

Angkot itu pun kembali berjalan dengan tanpa penumpang. Seperti tidak terjadi apa-apa.

Perempatan Ciawi masih sekitar 1 kilo lagi. Melanjutkan perjalanan dengan angkot tadi rasanya sama saja dengan merontokkan jantung.

Aku memutuskan untuk menunggu angkot lain lewat. Ada banyak urusan yang harus aku selesaikan. Jika terlambat, pasti akan kehilangan kesempatan besar.

 

 

 


Posted at 09:59 am by hanifilman
Make a comment  

Tuesday, June 15, 2010
Cerita Pendek

Nenek Kunyil



Cerpen Syerif Nurhakim


Saat itu aku mungkin masih berumur 6 tahun. Saat pulang dari TK, aku mendengar kabar kalau Nyi Kunyil meninggal. Keluarga pun sibuk mengurusi jenazah Nyi Kunyil. Para tetangga ada yang membuat katil (semacam keranda mayat yang terbuat dari bambu yang dianyam pada bagian tutupnya), sebagian yang lain menyiapkan kain kafan, papan nisan, dan menyiapkan air mandi jenazah lengkap dengan sabun dan wangi-wangian khas.

 

 

PEREMPUAN tua itu dilihat dari namanya mungkin agak sedikit aneh. Ia bernama Nyi Kunil namun orang-orang lebih sering menyebutnya Kunyil. Entah apa artinya? Yang kuingat wanita itu bertubuh kurus dan tinggi. Matanya cekung. Berkulit sawo matang atau lebih pantas disebut agak gelap. Tapi konon ia sangat baik ke semua orang terutama kepada kerabat dekat.

 

Nyi Kunyil senang berkunjung ke rumah kerabat. Dan setiap pergi ke mana-mana tak ketinggalan ia selalu beserta tongkat kayu kesayangannya. Tongkat itu terbuat dari kayu jambu yang permukaannya sangat halus, mungkin karena sering dipegang warnanya pun menjadi hitam mengkilap. Aku yang saat itu masih kecil sering sekali memainkan tongkat Nyi Kunyil. Aku mainkan tongkat itu dan berlagak seperti tukang sihir.

 

Tapi dari pengakuan ibuku kalau Nyi Kunyil itu punya sifat-sifat yang agak unik. Kata ibuku, salah satu keunikan Nyi Kunyil adalah sering meminum air bekas cuci tangannya sendiri (air yang disediakan dalam kobokan dan disimpan di meja makan). Hiiiy, sekilas memang menjijikkan ya. Tapi, kata ibuku Nyi Kunyil punya maksud tertentu melakukan itu semua. Apa ya maksudnya? Entahlah...

 

Mengenai asal-usul Nyi Kunyil aku sendiri jelas kurang mengetahuinya. Kalau tidak salah ia adalah bibik dari Eyang Kudi. Eyang Kudi adalah adik dari Eyang Hasan. Eyang Hasan adalah Ayah dari Nenekku. (Bingung kan?) Semoga Anda tidak bingung. Karena lama hidup sendiri dan tak memiliki keturunan maka Nyi Kunyil pun tinggal di rumah Kakek Kudi, Nyi Kunyil sudah dianggap seperti keluarga sendiri.

 

Konon Nyi Kunyil telah lama ditinggal mati anak dan suaminya. Mereka meninggal karena wabah kolera. Penyakit kolera adalah penyakit yang sangat mematikan. Apalagi, pada saat itu di desa kami sangat sedikit bahkan bisa dikatakan tidak ada tenaga kesehatan sama sekali. Kalau pun ada mantri, itu pun harus pergi ke kota kecamatan. Karena itu saat banyak musibah kolera mengancam desa, Nyi Kunyil harus merelakan anak dan suaminya mati. Ia pun menjadi hidup sendiri tanpa keturunan sama sekali.

 

Menurut penuturan Ibu, Nyi Kunyil sering datang ke rumah. Ia datang pas jam-jam makan siang kami. Karena sudah terbiasa, kedatangan Nyi Kunyil tak pernah mengganggu, justru membuat ibuku terhibur. Apalagi kalau bukan untuk mendengar dongeng-dongeng Nyi Kunyil. Ia senang mendongeng apa saja. Ada cerita-cerita tentang derita dan susahnya hidup di zaman Jepang, ada juga cerita-cerita mitos tentang penyakit dan kematian. Untuk dua yang terakhir itu Nyi Kunyil sering kali bercerita sambil meneteskan air mata. Terutama jika ia teringat tentang suami dan anak laki-lakinya yang meninggal di waktu bersamaan.

 

Aku hampir tak bisa membayangkan bagaimana kesedihan Nyi Kunyil saat ditinggalkan orang-orang yang dicintainya. Ia pasti terpukul. Namun, kolera seakan seperti hantu yang menakutkan. Bayangkan, satu dari sepuluh orang meningal di desa kami. Semua bisa terkena wabah kolera. Lingkungan yang kotor bisa dengan mudah menjadi perantara penyebaran penyakit tersebut. Setiap keluarga bisa setiap saat tertular. Dan bayangan kematian hampir selalu melintas kapan saja.

 

Setiap hari di warung-warung, di surau-surau, orang membicarakan penyakit. Tak terkecuali di keluarga kami saat usai makan malam. Namun Ayah memang tipe orang yang sangat peduli kebersihan. Saat para tetangga sering melakukan tindakan yang tidak sehat, ia tak henti-hentinya menceramahi kami untuk hidup sehat. Yang sering diabaikan misalnya saat harus membuang hajat. Maklum, potret desa miskin memang sudah menjadi wajah desa kami. Bayangkan hampir setiap kepala keluarga, (maaf) kerap membuang kotorannya di sungai-sangai. Karena sungailah satu-satunya ‘toilet’ alam yang disediakan Tuhan di desa kami. Dan banyangkanlah jika musim kemarau tiba dan sungai-sungai kering karena harus mendapat giliran surut. Otomatis, orang-orang desa yang tak berpendidikan itu membuang ampas pencernaan perutnya di mana-mana. Ada yang membuangnya di kebun, di sawah, di selokan-selokan kering. Bisa dibayangkan bagaimana aroma tak beradab itu mampir di hidung-hidung kami.

 

Hidup jorok. Itu harus dihilangkan jauh-jauh dari kamus hidup keluarga kami. Maka, tatkala Nyi Kunyil saja merasa menyesal telah ditinggalkan keluarganya, apalagi dengan kami. Apakah kami juga akan mengalami hal serupa. ''Tidak!'' kata Ayah. ''Kita tak boleh hidup jorok. Kita harus membuat toilet sendiri. Kalau tidak, tunggulah maut datang dengan perantara kolera.''

 

Tampaknya sedikit pengetahuan tentang kolera yang Ayah punya dapat membantu. Apalagi kalau bukan soal membuat lubang kakus alias septitank di belakang rumah. Itu sudah cukup membuat keluarga kami tenang. Setidaknya aman dari bau yang cukup tidak beradab itu.

                  

 

 

Ciawi, 20 Mei 2010

* * *


Posted at 12:54 pm by hanifilman
Make a comment  

Thursday, December 17, 2009
Mawar

Cerpen Syerif Nurhakim

"The number you are calling is being busy. Please call again a moment or you hang up.."

 . . .TELEPON YANG ANDA HUBUNGI SEDANG SIBUK… SILAKAN HUBUNGI BEBERAPA SAAT LAGI ATAU ANDA MATIKAN TELEPON ANDA . . .

 

Mesin penjawab itu terus-menerus mengulangi kalimat robotiknya. Seakan-akan ingin meyakinkan dan memberitahuku, bahwa aku sebaiknya melupakan dia untuk selama-lamanya. Selamanya.

Tapi, oh tidak! Aku sangat mencintainya.

TOLOL! Cukup dia sudah jelas-jelas mengkhianatimu. Sudah tak pantas kau untuk mencintainya lagi.

 

Tuuut…..tuut...  Tulaliiit.. ngngggggg……….

 

Sial!!! Kekasihku pasti sedang bermesraan dengan pacarnya. Gila, sudah jam begini dia susah sekali kuhubungi. Rasanya, ingin kutampar lelaki sialan itu. Lelaki yang telah merebut kekasihku.

 

Aku dial lagi nomor-nomor dia yang lain. Lalu terdengar lagi suara ...

NOMOR YANG ANDA PUTAR SALAH… SILAHKAN PERIKASA KEMBALI…

You last dial incorrect number… Please check your number….

 

Biadab!!!!! Dia memang sedang mempermainkan aku. Kapan dia punya waktu buat aku. Mengapa ia tak juga berhenti menelepon kekasihnya dan kembali bercinta denganku.

 

Ponsel ini kumaki-maki. Aku terus mengutuk atas nama cinta. Menghinakan semua yang pernah singgah dalam ingatanku kemarin. Bahwa cinta memang sangat menyusahkan. Cinta memang sangat menguras energi positifku. Cinta memang menguras habis kesabaranku. Cinta hanya membuat "makhluk cemburu" itu merangsek masuk dan mengobrak-abrik ketenangan dan kemanusiaanku yang lembut. Cinta hanya menyisakan kegetiran dan kekecewaan tiada akhir. Cinta semakin hari semakin tak mampu membuatku tenang dan menemukan kebahagiaan. Cinta yang kosong. Cinta yang bodoh. Cinta yang egois. Cinta yang masa bodoh. Cinta yang serakah. Cinta yang hanya menghanyutkan jiwa dalam mimpi-mimpi kosong yang memuakkan.

 

 

Selamat tinggal cinta. Selamat jalan masa lalu yang bodoh. Selamat berpisah, semoga kita tidak bertemu lagi dengan cinta. Pergilah jauh-jauh wahai cinta. Enyahlah dari kehidupanku.

 

 

Ponsel ini diam saja setelah kumaki-maki. Tak ada dering sms lagi. Seperinya ponselku mendengar semua omelanku. Maka dalam sehari itu tak ada lagi suara khas dari pesawat buatan China ini. Aku sendiri ada niat untuk sekedar miss call-miss call-an lagi. Tak ada lagi gairah untuk mendengarkan lagu. Tak ada lagi keinginan untuk bercerita. Tak ada lagi senyum untuk seribu rasa penasaran. Tak ada lagi semangat untuk sekedar menanyakan, "Pa kbr u lg apa Cyank?"

Mungkin saatnya aku menghapus semua memory dalam phonebook, last message, dan sms-sms yang belum sempat terkirimkan. Saatnya kini untuk menghapus semua jejak kehadiranmu dalam segala media termasuk dalam ruang digital dan imajinasiku. Saatnya untuk menghapus bayangan tentang apapun saja, termasuk dalam pikiranku yang awam ini.

 

Selamat tinggal masa laluku. Selamat berpisah. Biarkan aku menemukan bidadari yang lain. Bidadari yang Tuhan pilihkan untukku. Bidadari yang mengerti bahasa perasaanku. Bidadari yang memahami apapun, termasuk hal-hal yang tidak aku sukai. Bidadari yang mau membagi ceritanya. Bidadari yang mau membagi kebahagiaan, yang tidak saja untuk dirinya, tapi juga dia membaginya untukku.

 

Seminggu pun berlalu. Tiba-tiba saja ponselku memberi tahu sebuah pesan masuk.

 

"Kaka.. adik kangen ama kakak. Entar telpon ya ke nomor adik"

 

Tek. Seakan waktu berhenti sekejap. Kata-kata dalam SMS itu seperti menyihirku. Aku kembali mengingat semua yang indah tentang dia.

 

Kepalaku kembali mengorek-ngorek semua memori tentang dia. Dari yang sepele hingga yang serius. Dari yang sekedar basa-basi sampai yang menyita waktuku hingga berjam-jam. Dia memang sulit untuk dilupakan. Dia terlalu indah untuk disingkirkan.

 

Adek........, begitu panggilan sayang yang kuberikan untuknya. Kaka juga kangen banget sama kamu. Maukah kau menemaniku. Menemani aku dalam kesendirian yang panjang ini. Maukah kau bernyanyi lagi seperti dulu.

 

Mawarku.... maukah kau menemaniku berkhayal. Menemaniku bermimpi. Menemaniku bertamasya ke langit. Menggapai bintang-bintang. Menerobos langit ketujuh. Terbang ke manapun yang kita mau dalam ruang yang tanpa batas.

 

Mawar merahku....

Namamu sangat cantik. Tapi sampai detik ini aku tak tahu rupamu. Aku tak tahu wujud aslimu. Aku tak tahu warna matamu.

 

Aku cuma bisa berkhayal. Aku cuma bisa menduga-duga. Kau adalah bidadari terindah. Kau adalah peri kecil yang suaranya kusimpan.

 

Namun sampai detik ini aku belum tahu bagaimana bentuk wajahmu, warna rambutmu, senyummu, atau bagaimana reaksimu saat kau baca sms lucu yang aku kirimkan.

 

Adik mawarku..... kakak tak bisa terus berkhayal. Tanpa pernah tahu siapa dirimu. Tanpa pernah tahu bagaimana baumu.

 

Aku masih menjadi si pelukis mimpi. Yang sangat pandai menyembunyikan segala 'kegundahan' dan kerisauannya sendiri. Sehingga untuk mengakui bahwa kau adalah wanita biasa saja rasanya tak  bisa. Karena kau lebih indah dari imajinasiku. Kau lebih cantik dari yang kubayangkan.

 

Aku tak mau ini disebut kegilaan. Barangkali ini lebih pantas disebut kreativitas bercinta. Ini adalah kecerdasan yang kumiliki. Ini adalah sebuah kelihaian dalam menangkap ruang dan waktu. Ini adalah sebuah pengalaman rohani yang menyegarkan.

 

Ketahuilah. Aku bisa tersenyum. Aku juga  bisa menangis. Aku juga bisa merasa sangat kehilangan dirimu. Padahal, aku juga sadar bahwa kau belum bisa kumiliki. Hatimu masih milik orang lain.

 

Kau masih menjadi mimpi terindah. Kau masih menjadi gumam di kala sepi. Kau menjadi penyemangat hidup di kala aku jatuh. Kau masih menjadi bidadari dalam hidupku.

 

Ini adalah pengalaman ketiga. Setelah sekian lama aku tak merasakan manisnya bercinta. Manisnya memiliki seseorang yang bisa membagi kebahagiaan, bukan penderitaan.

 

Dunia ini seperti kembali tersenyum. Menyambut hidup yang lebih berwarna seperti rose.

 

 

*   *   *

 


Posted at 10:47 am by hanifilman
Make a comment  

Sunday, November 11, 2007
My Note

H I D U P    H E M A T

Oleh SN Hakim

 

Anda pasti pernah punya uang agak lebih bukan? Ya, untuk hal yang satu ini Anda patut waspada. Kalau tidak hanyut dalam godaan konsumtif, mungkin Anda pernah menjadi bulan-bulanan nafsu Anda yang bergejolak tak terarah.

 

Uang yang Anda pegang suatu saat dapat menjadi "bumerang" bagi diri Anda sendiri. Anda mungkin awalnya hendak memanfaatkan uang tersebut untuk hal-hal yang prinsipiil. Bukan untuk hal-hal yang tidak penting. Tetapi pada kenyataannya Anda sering kali terseret pada "aturan masa bodoh" yang justru menyesatkan Anda daripada membimbing Anda untuk berhemat. "Aturan masa bodoh adalah sikap temporal yang mengedepankan pandangan selintas pada kebutuhan tanpa melihat sisi kemanfaatan dan substansi.

 

Kenyataan bahwa kegiatan menabung atau menyimpan uang lebih dianggap sebagai tindakan anak kecil, maka ketika uang tabungan yang tidak seberapa itu kita ambil karena satu alasan, maka kita pun membelanjakan uang itu dengan sikap kekanak-kanakan pula. Inilah yang mendorong manusia untuk konsumtif dan hidup berlebihan.

 

Tidak adanya manajemen kontrol terhadap diri sendiri memungkinkan terjadinya masalah-masalah serius di kemudian hari. Jika kaki kita pernah terpeleset dan hampir jatuh di sebuah jalan becek, maka apakah kita akan tetap melewati jalan yang sama untuk sekedar membuktikan bagaimana rasanya jatuh di jalanan becek?

 

 

Manusia memang sering kali bertindak konyol. Untuk menutupi kekonyolannya manusia memolesnya dengan berbagai macam alasan. Misalnya karena ingin memiliki sepeda motor agar dapat berangkat kerja tepat waktu dan terhindar macet, seorang pria pun menabung. Setiap bulan ia sisihkan uangnya untuk ia simpan di bank. Beberapa bulan pertama ia pun berhasil. Namun pada bulan yang penuh dengan masa-masa sulit, tiba-tiba pikirannya mudah sekali terpengaruh. Apalagi ketika seorang temannya mengajak jalan-jalan. Ia benar-benar melupakan program berhematnya. Ia terjebak pada sensasi "senang-senang".Ada saja barang yang sebenarnya tidak ia butuhkan tapi justru memenuhi kantong belanjaannya. Ia pun pulang dan menyesal karena uang gajinya pun menipis, ia gagal menabung untuk bulan itu. Seterusnya pada bulan-bulan berikutnya kejadian serupa terulang dan lagi-lagi ia tidak dapat menabung sampai akhirnya ia sendiri tidak mampu untuk menutupi kebutuhannya sehari-hari. Karena selalu saja ada hutang yang harus ia bayar di awal bulan. Motor idaman pun tetap saja tidak terbeli.

 

Lalu bagaimana solusi yang tepat untuk menjalankan program hemat secara tepat? Marilah kita melihat sesuatu secara adil. Saat kita memiliki  yang Rp100.000 misalnya yang ada di saku baju. Apa yang Anda lakukan ketika melihat sebuah barang yang dibanderol seharga Rp99.990. Spontan Anda akan  bilang bahwa barang itu murah dan Anda ingin membelinya. Inilah salah satu jebakan yang sering kali Anda jumpai di toko-toko, supermarket dan mal-mal. Anda seakan-akan selalu ditawari barang murah, padahal sekali lagi itu adalah jebakan agar uang Anda terkuras dan mereka memperoleh untung.

 

Dari satu kasus di atas kita bisa menggarisbawahi bahwa hemat sebenarnya adalah sebuah kondisi kewaspadaan dan perhitungan yang matang. Hemat itu bukan tidak membeli apa-apa, tetapi mengukur apa-apa dengan perhitungan yang  bijak dan adil. Maka bertanyalah pada diri sendiri, "Seberapa besar manfaat barang itu bagiku dan bagaimana pengamat keuanganku yang  bijaksana menilai?"

Sekarang terserah Anda.

(snh)

 

 

 

 

 


Posted at 03:39 pm by hanifilman
Make a comment  

Saturday, November 10, 2007
C E L O T E H :

ESKOWALUKA

Syerif Nurhakim

Beginilah punya anak, apalagi dia laki-laki. Banyak hal yang ingin dicobanya dari mulai meniru setiap dialog di sinetron, iklan-iklan konyol di televisi, sampai "mengganggu" pekerjaan kantorku yang terbawa ke rumah. Dari main kuda-kudaan, sampai memainkan tombol laptopku. Tapi, saat ia mengucapkan kata aneh itu aku semakin menaruh perhatian besar kepadanya. Bukan karena sebelumnya kurang perhatian, tapi karena ada banyak hal baru yang membuat aku semakin tertarik padanya.

 

"Papa, aku punya ide, idenya eskowaluka….." Anak laki-lakiku berceloteh.

Entah apa maksudnya, kedengarannya sangat aneh? Spontanitas yang kudengar dari bibir mungilnya. Sebuah bahasa "mantra" yang terlontar dari seorang anak yang usianya baru menginjak 3 tahun. Dia bilang itulah "idenya". Ide yang hanya bisa dimengerti oleh dirinya sendiri. Atau mungkin itu salah satu bahasa yang diajarkan "para malaikat" saat di alam rahim sana. Tapi, ah… soal itu aku tidak tahu apa-apa.

 

Banyak hal menarik dari setiap ucapannya. Suatu kali aku sempat bertanya tentang maksud ucapannya itu, namun dia menjawabnya dengan kata yang sama, "eskowaluka". Semakin aku ingin menyelami pikirannya, semakin aku menjadi bulan-bulanan baginya.

 

Suatu hari, aku sengaja masuk ke perpustakaan di kantorku. Aku mencoba mencari tahu apa maksud dari kata eskowaluka. Dari bahasa manakah asal-muasal kata itu? Dari berbagai buku, kamus, dan literatur yang tersedia, tidak ada satu pun petunjuk dari makna kata tersebut. Merasa kurang puas, aku pun sengaja melakukan browsing di internet. Mengetikkan kata tersebut dengan tujuh fasilitas search engine terbaik di dunia, tapi sekali lagi yang aku dapatkan hanya, "Maaf, kata yang anda ketik tidak sesuai dengan dokumen manapun."

 

Setelah hampir putus asa, kata itu belum juga aku dapatkan sumber maupun maknanya. Aku mulai bingung. Seandainya anakku bisa aku ajak bicara lebih dewasa, mungkin aku akan terus menginterogasinya sampai aku mendapatkan jawaban yang memuaskan.

 

Selama ini aku hanya bisa mengira-ngira saja artinya. Mungkin itu adalah ungkapan ekspresi biasa yang dimiliki anak-anak balita seumurnya. Dia mungkin bisa mengatakan apa saja tentang sesuatu yang dia ingin ungkapkan, meskipun dia sendiri tak terlalu menganggap penting bahasa verbalnya. Dia hanya ingin mengungkapkan perasaannya. Tetapi  lama-lama, aku merasa ada sesuatu yang harus aku belajari dari ungkapan-ungkapan "anehnya" itu. Mungkin saja ada informasi yang ingin ia sampaikan, namun ia belum mengerti bagaimana menyampaikannya. Atau mungkin itu adalah salah satu "pesan gaib" yang dibisikkan Tuhan kepadanya. Lagi-lagi, aku semakin bingung.

 

Sejak usianya belum masuk satu tahun, ia juga pernah mengucapkan, kata-kata aneh seperti bubu, nana, hakeng, tekedah, dan beberapa kata yang terdengar ganjil dan lucu lainnya. Menurut para orang tua hal itu biasa, katanya setiap bayi juga bisa melafalkan kata-kata seperti itu. Jelas sebagai orang yang senang dengan nalar sehat, pendapat itu tidak begitu saja aku terima.

 

Rasa penasaranku terhadap kata aneh itu membuat aku semakin banyak  menduga-duga. Bisa saja kata itu adalah semacam pasword untuk menghentikan semburan lumpur Lapindo. Atau mungkin semacam "wangsit" yang dapat mengilhami bagaimana cara penanganan kecurangan-kecurangan para pejabat negeri ini.

 

Salah seorang teman  di kantor memberiku saran.

"Sebaiknya kamu kurangi lembur, Mas."

"Lho, apa hubungannya?"

"Anakmu itu butuh suasana baru."

"Suasana apa?"

"Bawalah anakmu jalan-jalan atau sekedar refreshing, gitu!"

 

Pendapat temanku itu akhirnya aku ambil juga. Pada hari Minggu aku mengajak  anak dan istriku berjalan-jalan ke mal. Istriku tentu saja paling senang dengan ajakan ini. Dia memang sedang mengincar gaun tidur kesukaannya.

 

"Ma, kita mungkin cuma jalan-jalan, saja ya?"

"Papa ini bagaimana? Ya sudah, aku gak ikut saja."

"Engga, Ma,  ini cuma bercanda..!" Jawabku spontan.

Tentu aku paling tahu kebiasaan istriku. Kalau dia ngambek, bisa-bisa aku puasa dan cari makan di luar. Maklum, istriku sering mengunci kamar tidur seharian.

 

Aku sengaja tidak cerita soal maksudku jalan-jalan. Kalau dimintai pendapat malah biasanya dia lebih banyak bicara takhayul atau mistik daripada bicara logis. Hal itu tentu bisa membuatku pusing. Aku memang ingin bisa membawa anak laki-lakiku dunia luar. Dunia yang menyuguhkan "materialisme" yang menantang. Kali ini aku ingin sekedar mengenalkan pada anakku,  bahwa kehidupan ini sungguh sebuah permainan. Aku sama sekali tidak ingin membawa anakku pada dunia "Penindasan global" dunia godaan yang terkemas rapi. Aku cuma ingin mengenalkan bahwa monster dunia global ini sungguh tidak manusiawi. Aku ingin memberinya peringatan. "Ini lho, Nak, dunia angan-angan itu. Kamu jangan sampai tertipu, ya Nak!" Aku malah sampai ingin mengatakan hal itu pada anakku, tapi… Apa dia bisa mengerti?

 

Dua jam sudah kami berputar-putar. Istriku tentu sudah penuh dengan barang belanjaannya. Sedang aku tetap menggandeng tangan anakku. Dia juga tidak menginginkan apa-apa. Yang dia inginkan paling mainan atau jajanan angin. Kali ini toko mainan yang biasa buka ternyata tutup, maka itulah kesempatan bagiku untuk mengajak anakku pulang. Misi jalan-jalanku untuk anakku ternyata berubah menjadi belanja. Mungkin ini salahku juga yang terlalu longgar memberi kebebasan keuangan.

 

Sampai di rumah anakku tidak langsung tidur. Ia langsung membongkar boks mainan miliknya dan mengacak-acakinya di depan televisi. Dan …

"Papa, Eskowaluka. Idenya e s k o w a l u k a . . . " Anakku lagi-lagi berceloteh.

Kata itu lagi. Sungguh masih sangat aneh kedengarannya. Dia sangat fasih dan yakin mengucapkan kata itu.

"Oh, Tuhan apa sebenarnya maksud kata itu?"

 

Semakin aku pikirkan  maksud kata itu, kepalaku rasanya semakin pusing. Tetapi, ketika aku abaikan kata aneh itu seperti datang kepadaku dengan bergerombol.

 

Jelas anakku tidak kurang main atau kurang refreshing. Dia itu memang begitulah khasnya. Tanpa merasa perasaan curiga terhadap anakku, lama-kelamaan aku berusaha untuk melupakan celoteh ajaib itu.


Posted at 05:16 pm by hanifilman
Make a comment  



hanifilman
Male
Indonesia
   

<< January 2012 >>
Sun Mon Tue Wed Thu Fri Sat
01 02 03 04 05 06 07
08 09 10 11 12 13 14
15 16 17 18 19 20 21
22 23 24 25 26 27 28
29 30 31


If you want to be updated on this weblog Enter your email here:



rss feed