ESKOWALUKA
Syerif Nurhakim
Beginilah punya anak, apalagi dia laki-laki. Banyak hal yang ingin dicobanya dari mulai meniru setiap dialog di sinetron, iklan-iklan konyol di televisi, sampai "mengganggu" pekerjaan kantorku yang terbawa ke rumah. Dari main kuda-kudaan, sampai memainkan tombol laptopku. Tapi, saat ia mengucapkan kata aneh itu aku semakin menaruh perhatian besar kepadanya. Bukan karena sebelumnya kurang perhatian, tapi karena ada banyak hal baru yang membuat aku semakin tertarik padanya.
"Papa, aku punya ide, idenya eskowaluka….." Anak laki-lakiku berceloteh.
Entah apa maksudnya, kedengarannya sangat aneh? Spontanitas yang kudengar dari bibir mungilnya. Sebuah bahasa "mantra" yang terlontar dari seorang anak yang usianya baru menginjak 3 tahun. Dia bilang itulah "idenya". Ide yang hanya bisa dimengerti oleh dirinya sendiri. Atau mungkin itu salah satu bahasa yang diajarkan "para malaikat" saat di alam rahim sana. Tapi, ah… soal itu aku tidak tahu apa-apa.
Banyak hal menarik dari setiap ucapannya. Suatu kali aku sempat bertanya tentang maksud ucapannya itu, namun dia menjawabnya dengan kata yang sama, "eskowaluka". Semakin aku ingin menyelami pikirannya, semakin aku menjadi bulan-bulanan baginya.
Suatu hari, aku sengaja masuk ke perpustakaan di kantorku. Aku mencoba mencari tahu apa maksud dari kata eskowaluka. Dari bahasa manakah asal-muasal kata itu? Dari berbagai buku, kamus, dan literatur yang tersedia, tidak ada satu pun petunjuk dari makna kata tersebut. Merasa kurang puas, aku pun sengaja melakukan browsing di internet. Mengetikkan kata tersebut dengan tujuh fasilitas search engine terbaik di dunia, tapi sekali lagi yang aku dapatkan hanya, "Maaf, kata yang anda ketik tidak sesuai dengan dokumen manapun."
Setelah hampir putus asa, kata itu belum juga aku dapatkan sumber maupun maknanya. Aku mulai bingung. Seandainya anakku bisa aku ajak bicara lebih dewasa, mungkin aku akan terus menginterogasinya sampai aku mendapatkan jawaban yang memuaskan.
Selama ini aku hanya bisa mengira-ngira saja artinya. Mungkin itu adalah ungkapan ekspresi biasa yang dimiliki anak-anak balita seumurnya. Dia mungkin bisa mengatakan apa saja tentang sesuatu yang dia ingin ungkapkan, meskipun dia sendiri tak terlalu menganggap penting bahasa verbalnya. Dia hanya ingin mengungkapkan perasaannya. Tetapi lama-lama, aku merasa ada sesuatu yang harus aku belajari dari ungkapan-ungkapan "anehnya" itu. Mungkin saja ada informasi yang ingin ia sampaikan, namun ia belum mengerti bagaimana menyampaikannya. Atau mungkin itu adalah salah satu "pesan gaib" yang dibisikkan Tuhan kepadanya. Lagi-lagi, aku semakin bingung.
Sejak usianya belum masuk satu tahun, ia juga pernah mengucapkan, kata-kata aneh seperti bubu, nana, hakeng, tekedah, dan beberapa kata yang terdengar ganjil dan lucu lainnya. Menurut para orang tua hal itu biasa, katanya setiap bayi juga bisa melafalkan kata-kata seperti itu. Jelas sebagai orang yang senang dengan nalar sehat, pendapat itu tidak begitu saja aku terima.
Rasa penasaranku terhadap kata aneh itu membuat aku semakin banyak menduga-duga. Bisa saja kata itu adalah semacam pasword untuk menghentikan semburan lumpur Lapindo. Atau mungkin semacam "wangsit" yang dapat mengilhami bagaimana cara penanganan kecurangan-kecurangan para pejabat negeri ini.
Salah seorang teman di kantor memberiku saran.
"Sebaiknya kamu kurangi lembur, Mas."
"Lho, apa hubungannya?"
"Anakmu itu butuh suasana baru."
"Suasana apa?"
"Bawalah anakmu jalan-jalan atau sekedar refreshing, gitu!"
Pendapat temanku itu akhirnya aku ambil juga. Pada hari Minggu aku mengajak anak dan istriku berjalan-jalan ke mal. Istriku tentu saja paling senang dengan ajakan ini. Dia memang sedang mengincar gaun tidur kesukaannya.
"Ma, kita mungkin cuma jalan-jalan, saja ya?"
"Papa ini bagaimana? Ya sudah, aku gak ikut saja."
"Engga, Ma, ini cuma bercanda..!" Jawabku spontan.
Tentu aku paling tahu kebiasaan istriku. Kalau dia ngambek, bisa-bisa aku puasa dan cari makan di luar. Maklum, istriku sering mengunci kamar tidur seharian.
Aku sengaja tidak cerita soal maksudku jalan-jalan. Kalau dimintai pendapat malah biasanya dia lebih banyak bicara takhayul atau mistik daripada bicara logis. Hal itu tentu bisa membuatku pusing. Aku memang ingin bisa membawa anak laki-lakiku dunia luar. Dunia yang menyuguhkan "materialisme" yang menantang. Kali ini aku ingin sekedar mengenalkan pada anakku, bahwa kehidupan ini sungguh sebuah permainan. Aku sama sekali tidak ingin membawa anakku pada dunia "Penindasan global" dunia godaan yang terkemas rapi. Aku cuma ingin mengenalkan bahwa monster dunia global ini sungguh tidak manusiawi. Aku ingin memberinya peringatan. "Ini lho, Nak, dunia angan-angan itu. Kamu jangan sampai tertipu, ya Nak!" Aku malah sampai ingin mengatakan hal itu pada anakku, tapi… Apa dia bisa mengerti?
Dua jam sudah kami berputar-putar. Istriku tentu sudah penuh dengan barang belanjaannya. Sedang aku tetap menggandeng tangan anakku. Dia juga tidak menginginkan apa-apa. Yang dia inginkan paling mainan atau jajanan angin. Kali ini toko mainan yang biasa buka ternyata tutup, maka itulah kesempatan bagiku untuk mengajak anakku pulang. Misi jalan-jalanku untuk anakku ternyata berubah menjadi belanja. Mungkin ini salahku juga yang terlalu longgar memberi kebebasan keuangan.
Sampai di rumah anakku tidak langsung tidur. Ia langsung membongkar boks mainan miliknya dan mengacak-acakinya di depan televisi. Dan …
"Papa, Eskowaluka. Idenya e s k o w a l u k a . . . " Anakku lagi-lagi berceloteh.
Kata itu lagi. Sungguh masih sangat aneh kedengarannya. Dia sangat fasih dan yakin mengucapkan kata itu.
"Oh, Tuhan apa sebenarnya maksud kata itu?"
Semakin aku pikirkan maksud kata itu, kepalaku rasanya semakin pusing. Tetapi, ketika aku abaikan kata aneh itu seperti datang kepadaku dengan bergerombol.
Jelas anakku tidak kurang main atau kurang refreshing. Dia itu memang begitulah khasnya. Tanpa merasa perasaan curiga terhadap anakku, lama-kelamaan aku berusaha untuk melupakan celoteh ajaib itu.